Kepala DLH Buat Bank Pohon Lestarikan Lingkungan dan Mata Air
Menjaga kelestarian lingkungan dan mata air bukanlah tugas yang mudah. Dibutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bertahun-tahun atau puluhan tahun. Untuk mengatasi masalah ini, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang telah membangun Bank Pohon. Melalui Bank Pohon, masyarakat dari semua kalangan dapat menyumbangkan bibit pohon untuk membantu menjaga dan melestarikan lingkungan.
Saat ini, kami memiliki sekitar 3.000 – 3.500 bibit pohon yang disimpan di Deyangan atas lahan seluas 1.000 meter persegi. Namun, sementara ini kami telah menempatkannya di Kemandoran, Dangean, Muntilan untuk proses penanaman lebih lanjut. Jenis pohon yang tersedia termasuk Gayam, Tabebuya, Klengkeng, Jeruk, Durian dan Trembesi. Bank Pohon ini merupakan hasil dari sumbangan dan koordinasi dengan BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai) Wonosari serta perusahaan-perusahaan dalam program CSR mereka,” ungkap Ir. Tri Agung Sucahyono, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Magelang saat berbincang dengan Berita Magelang di kantornya.
Sebagai awal dari visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Magelang, DLH berdedikasi untuk mempertahankan potensi lingkungan di wilayah ini. Fokus utama kami adalah pengelolaan mata air, yang merupakan bagian dari tujuan pembangunan prioritas Kabupaten Magelang. Wilayah ini dikenal karena gunung-gunungnya yang merupakan sumber mata air penting bagi kehidupan, pertanian, dan pariwisata, termasuk peternakan.
Dari investigasi kami, ditemukan 10 mata air yang sudah mati di daerah ini termasuk di Kajoran, Salaman, Borobudur, Muntilan, dan Sawangan. Ini menjadi ancaman serius karena jika tidak ditangani akan berdampak pada keberadaan sumber air yang semakin menipis dan pada akhirnya mengancam pasokan air untuk pertanian. Magelang adalah kota pertanian yang membutuhkan sumber air bersih untuk penduduk sebanyak 1,2 juta orang. Tindakan harus segera diambil untuk mempertahankan sumber daya alam yang berharga ini.
Wisata di Magelang semakin berkembang dengan hadirnya aktivitas tubing, air terjun, dan arung jeram. Para wisatawan berbondong-bondong ke kota ini untuk menikmati keindahan alam yang sejuk dan bersih. Oleh karena itu, penting untuk menjaga lingkungan agar tetap indah dan lestari,” kata pegiat wisata setempat.
DLH telah mengambil langkah-langkah penting untuk menyelamatkan 239 mata air yang ada di Kabupaten Magelang. Salah satu cara adalah dengan membangun embung dan sumur resapan di daerah Borobudur, sehingga air hujan dapat disimpan dan tidak langsung mengalir ke wilayah yang berada di bawahnya. Ini merupakan upaya yang terus dilakukan untuk memastikan bahwa air bersih tetap tersedia bagi masyarakat setempat.
Selain itu, kami juga secara teratur melakukan penanaman, reboisasi, dan revegetasi. Saat ini, kami sedang memproses Perbup untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam menyelamatkan lingkungan dengan menggalakkan inisiatif pohonan. Kami berharap semua orang dapat bersumbangsih dalam upaya ini.
Untuk mencegah longsor, kami telah membangun stokade di sekitar sumber air. Kami berharap pemerintah dapat memiliki tanah di sekitar sumber air untuk mencegah penduduk membangun rumah di sana. Di sekitar lingkungan dalam 200 meter radius, kami juga menanam berbagai jenis pohon seperti gayam, aren dan beringin.
“Di sekitar mata air dengan radius 200 meter, dapat ditanami pohon buah seperti jambu, durian, dan petai, serta tanaman perkebunan yang memiliki tegakan dan hasil buahnya. Hal ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat. Kami juga akan mendorong desa-desa untuk membuat Peraturan Desa tentang pengelolaan lingkungan, mata air, dan juga penanganan sampah di masa depan,” tambahnya.